CIPG-Pameran Seni

Telefiksi: Dongeng Semu Penyiaran

IMG_0787 IMG_0836
Pameran Karya Seni dan Diskusi Publik

Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) bekerjasama dengan Serrum Studio dan Remotivi menyelenggarakan pameran seni dan diskusi publik ”Telefiksi: Dongeng Semu Penyiaran” pada 22–24 Juli 2016 di Main Atrium Plaza Semanggi, Jakarta. Lima karya seni yang dipamerkan terdiri dari peta miniatur Indonesia yang menggambarkan dominasi identitas Jawa dalam konten media penyiaran, komik tentang kondisi LPK (Lembaga Penyiaran Komunitas) dan LPP TVRI-RRI (Lembaga Penyiaran Publik TVRI dan RRI),  beberapa video singkat tentang karut-marutnya penyiaran Indonesia saat ini, dan instalasi “Monoton TV” berisi tayangan-tayangan terpopuler yang ditawarkan TV dalam 24 jam per hari. Ada juga “Pojok Curhat”, di mana pengunjung bisa mampir dan merekam atau menuliskan kesan pesannya mengenai penyiaran Indonesia.

Acara ini dibuka pada Jumat, 22 Juli 2016 dengan penampilan KTF UI Radha Sarisha yang membawakan Tari Katrina khas Betawi. Pada Sabtu, 23 Juli 2016 diadakan diskusi publik dengan pembicara  ‎Ade Armando (akademisi, anggota KNRP/Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran); pengamat penyiaran Ignatius Haryanto; praktisi media Maman Suherman; dan Leila Chudori (penulis sekaligus kreator Dunia Tanpa Koma). Diskusi publik ini dibuka dengan penampilan stand up comedy oleh Benidictus Siregar. Sesi diskusi dan tanya jawab dipandu oleh Wishnu Sudarmadji. Dalam sesi tanya jawab, pengunjung berkesempatan bertanya kepada para pembicara mengenai isu penyiaran dan bagaimana publik bisa berpartisipasi memperbaiki penyiaran Indonesia. Salah satu pembicara dalam diskusi ini, Ade Armando menekankan bahwa penyiaran perlu diatur secara ketat karena menggunakan frekuensi publik, penataan penyiaran di Indonesia adalah tanggung jawab pemerintah, sementara masyarakat sipil bertugas untuk mengawal.

Rangkaian acara ini akhirnya ditutup pada Minggu, 24 Juli 2016 dengan tari Zapin Kasmaran oleh KTF UI Radha Sarisha dan penampilan perkusi dari Cie Cie Project. Program ini mendapatkan berbagai tanggapan yang positif dari pengunjung yang hadir dan mengemukakan aspirasinya tentang media penyiaran.

“Media seharusnya menjadi alat untuk mencerdaskan bangsa dan bukan alat pendulang rating atau bahkan alat politik” tulis salah satu pengunjung.

Program ini diselenggarakan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat umum mengenai ketimpangan yang terjadi dalam penyiaran Indonesia. Hasil riset sengaja dikemas dalam bentuk karya seni agar lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat. Program ini juga mengajak masyarakat umum untuk berpartisipasi aktif menyampaikan aspirasi kepada pengambil kebijakan agar mendorong terwujudnya penyiaran yang lebih baik.

 

Share this post