Mengapa Riset Sosial di Indonesia Mengalami Ketertinggalan ?

Sebuah Catatan Dari Sisi Sumber Daya Manusia

Mohammad Rinaldi

Latar Belakang

Riset adalah salah satu aspek yang bisa menjadi indikator kemajuan suatu negara. Banyak negaranegara di dunia yang kemajuannya berbanding lurus dengan kualitas riset negara tersebut. Salah satunya adalah Korea Selatan. Di tahun 1960-an kondisi Korea Selatan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Namun Korea Selatan kemudian tumbuh pesat meninggalkan Indonesia. Kini anggaran riset Korea Selatan sudah mencapai 4 persen dari PDB. Setelah itu di tahun 1980-an muncul Tiongkok yang melesat tumbuh meninggalkan Indonesia. Padahal kondisi Tiongkok sebelum 1985 jauh di bawah Indonesia. Kemajuan kedua negara tersebut memiliki dua kesamaan: Alokasi rasio dana riset yang besar terhadap PDB. Dari tingkat pusat, dana riset adalah salah satu dari banyak hambatan riset di tanah air. Di Indonesia saat ini, riset bisa dikatakan masih jauh dari kata Ideal. Alokasi dana riset Indonesia saat ini masih belum mencapai 1 persen, atau sekitar 0,08 persen dari PDB.

Dari dana itupun sebagian besarnya adalah untuk operasional dan belanja pegawai, hanya sebagian kecil dialokasikan untuk riset. Sebagai contoh di tahun 2016 , pagu anggaran kemristekdikti adalah Rp 40,63 triliun. Dari jumlah tersebut 97 % dialokasikan untuk pos pendidikan yang terdiri dari beasiswa Mahasiswa, beasiswa dosen, BOPTN, sarana dan prasarana, PNBP, dan gaji tunjangan dosen, guru besar, dan pegawai. Dari postur yang ada kemudian bisa dilihat bahwa riset masih mendapat porsi yang sangat kecil dari anggaran (http://ristekdikti.go.id/informasi-publik/laporan-keuangan/). Itu adalah data untuk riset secara umum, jika dikerucutkan lagi ke riset ilmu sosial maka dengan asumsi sebagian besar dana riset diperuntukkan untuk riset-riset teknologi dan untuk tujuan riset terapan maka porsi untuk riset sosial tentu jauh lebih kecil lagi.

UNESCO merekomendasikan idealnya rasio anggaran adalah dua persen dari PDB. Bandingkan dengan India dan Cina yang anggaran dana risetnya mencapai 1.9 persen dan 1.2 persen dari PDB. Tidak heran kemudian dalam hal riset Indonesia mengalami ketertinggalan bahkan dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan negara berkembang seperti Bangladesh dan Nigeria (Suryadarma, et.al, 2011). Terkait pendanaan, masalah yang juga perlu mendapat perhatian juga diantaranya adalah infrastruktur pendanaan dan pengelolaan dana. Saat ini permasalahan mengenai infrastruktur pendanaan sedikit demi sedikit mulai diurai dengan dibentuknya lembaga pengelola dana penelitian. Selain pendanaan masalah lain adalah tidak adanya rencana jangka panjang, terpusat, dan berkesinambungan terkait riset di Indonesia. Akibatnya adalah para peneliti cenderung terkotak kotak dengan aktivitas riset mereka masing masing. Hal tersebut terlihat dari temuan lapangan dalam penelitian GDN “Reforming Research In Indonesia: Policies and Practices” pada tahun 2015 yang dilakukan di lima perguruan tinggi negeri di Indonesia. Polarisasi yang sangat mencolok terdapat pada aktivitas riset di PTN yang terdapat di Pulau Jawa dan daerah di luar Pulau Jawa. Selain terkotak kotak, peneliti juga tidak mempunyai rencana jangka panjang penelitian. Dampak hal tersebut adalah riset yang dilakukan banyak memiliki kemiripan (Kompas 2 Desember 2014) cenderung menjadi rutinitas biasa, jangka pendek, praktis dan tidak menjawab persoalan utama di lapangan. Riset jangka panjang kemudian diperlukan untuk menghasilkan terobosan dan solusi jangka panjang.

Ilmu sosial seharusnya menjadi panglima dalam riset berbagai macam bidang, termasuk unsur penerapan inovasi dan teknologi.Karena implementasi inovasi dan teknologi sangat bergantung perilaku manusianya. (Kompas Cetak, 21 Juni 2016) Rendahnya kepedulian terhadap penelitian adalah wujud dari kurangnya pemahaman terhadap pentingnya penelitian. Sayangnya rendahnya kepedulian terhadap penelitian tidak hanya datang dari sisi pembuat kebijakan (sisi struktural) tapi juga dari sisi manusianya (sisi kultural). Hal tersebut ditandai oleh rendahnya ouput penelitian sosial di Indonesia, rendahnya pemahaman terhadap jurnal terindeks dan rendahnya mobilitas sosial peneliti.

Perubahan sosial masyarakat berjalan sangat cepat, dinamis dan kompleks. Ini menjadi tantangan bagi penelitian sosial untuk menjelaskan bagaimana perubahan sosial tersebut, serta memberikan solusi atas fenomena-fenomena sosial yang terjadi. Kesadaran akan pentingnya riset sosial belakangan memang mulai muncul. Hal tersebut contohnya tercermin dari mulai dirintisnya riset frontier dan jangka panjang bidang ilmu sosial.

Hambatan SDM dalam Pengembangan Riset Sosial di Indonesia

Diantara negara negara tetangganya Indonesia merupakan negara dengan produktivitas riset sosial yang tergolong rendah. Indonesia merupakan penyumbang terkecil dalam literatur internasional di antara negara-negara besar ASEAN lainnya, seperti Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand (Hadiz, 2016). Hal ini membuat Indonesia tidak dapat secara efektif berbicara tentang dirinya sendiri karena perspektif yang ada tentang Indonesia datang dari pihak luar. Sampai sekarang karya-karya utama tentang Indonesia yang menjadi panutan atau rujukan Internasional dilakukan oleh orang-orang asing (Hadiz, 2016).

Rendahnya output riset sosial ini selain karena masalah pendanaan juga tidak terlepas kualitas sumber daya manusia. Secara struktural dari sisi kuantitas misalnya, rasio dosen-mahasiswa yang tidak ideal di perguruan tinggi menjadikan dosen yang juga merangkap sebagai peneliti dibebankan dengan beban administrasi berupa jam pengajaran. Berdasarkan data yang diperoleh dari riset GDN ditemukan bahwa jam mengajar yang tinggi dibebankan juga kepada peneliti muda yang diharapkan bisa melakukan penelitian. Padahal dengan beban mengajar yang tinggi, produktivitas penulisan akan menurun karena waktu yang ada tersita urusan administrasi.

Masalah beban pengajaran juga terkait dengan tidak adanya jenjang karier dan pembatasan yang jelas antara dosen dan peneliti. Berdasarkan pengamatan lapangan di beberapa Universitas di Indonesia, hampir tidak ditemukan posisi peneliti tetap yang murni hanya melakukan penelitian. Biasanya peneliti tetap adalah juga seorang staff pengajar. Adapun posisi peneliti yang bukan staff pengajar biasanya adalah posisi tidak tetap dengan ketidakjelasan batas waktu, jenjang karier, dan insentif . Hal ini juga yang kemudian menjelaskan rendahnya minat untuk menjadi peneliti di golongan usia muda di Universitas. Peneliti yang menginginkan posisi tetap dengan jenjang karier yang jelas umumnya beralih ke korporat atau konsultan dan melakukan riset praktis untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara itu dari sisi kultural hambatan pengembangan riset sosial datang dari pola pikir sumber daya manusia nya. Bertahun-tahun Indonesia dikuasai oleh pemerintahan otoriter membuat pola pikir riset kurang berkembang dan peneliti cenderung berpikir statis. Hal ini karena rezim pemerintahan sebelumnya cenderung menumpulkan kemampuan berpikir kritis dan mengekang kebebasan. Tidak ada kebebasan berpikir dan berpendapat menciptakan pola pikir insuler dan birokratis (Hadiz, 2016). Padahal, pemecahan masalah sosial, seperti kemiskinan dan pengangguran, memerlukan penelitian agar pembangunan bangsa dapat tercapai. Namun, penelitian sosial harus independen dan berdasarkan sikap kritis (Hadiz dalam Kompas, 18 September 2014). Hal ini yang kemudian menciptakan SDM riset yang bercirikan birokratik, insuler, inward looking dan tidak kritis.

Peluang dan Solusi

Kini seiring meningkatnya tuntutan agar riset kembali mendapat perhatian, banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan SDM riset di tanah air. Beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan tersebut antara lain melimpahnya jumlah penduduk usia produktif (bonus demografi), ketersediaan infrastruktur pendanaan riset dan pendidikan.

Dengan peluang tersebut jumlah penduduk dengan kualifikasi ideal yang dibutuhkan akan meningkat. Adapun jaringan dan pengalaman riset yang diperoleh dari studi di luar negeri juga akan meningkatkan kualitas riset di tanah air. Paparan lingkungan internasional yang diperoleh dari pendidikan di luar negeri akan membangun mindset global yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas riset.

Dari sisi pembuat kebijakan, Pemerintah harus bisa menangkap peluang ini dengan mempersiapkan dana, kebijakan dan infrastruktur yang menunjang dan dapat menarik calon peneliti untuk berkarier sebagai peneliti di institusi perguruan tinggi. Institusi juga seharusnya bisa mempersiapkan diri dengan memperbaiki sistem rekrutmen dan menyediakan jenjang karier penelitian yang terpisah dari pengajaran, sehingga peneliti bisa terlibat secara penuh untuk kegiatan penelitan dan target jumlah peneliti 200.000 orang pada tahun 2030 bisa tercapai (Kompas 19 Oktober 2013).

 

Daftar Pustaka

Suryadarma, D., Pomeroy, J.and Tanuwidjaja, S, 2011, Economic Factors Underpinning Constraints in Indonesia’s Knowledge Sector, Ausaid, Jakarta (http://dfat.gov.au/about-us/publications/Documents/indoks2-economic-incentives.pdf)

Achwan, R.(2010). Ilmu Sosial di Indonesia: Peluang, Persoalan, dan Tantangan. Jurnal Masyarakat dan Budaya Edisi Khusus, Jakarta: LIPI

Hadiz, Vedi (2016). Ilmu Sosial dalam Konteks Otoritarianisme, Demokrasi, dan Tuntutan Pasar. Ilmu Sosial: Perkembangan dan Tantangan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Rakhmani, Inaya dan Fajri Siregar. (2016). Reforming Research in Indonesia: Policies and Practices. Working Paper. Kompas, 2 Desember 2014

Kompas, 19 Oktober 2013 Kompas, 21 Juni 2016 Kompas, 27 Februari 2015 Kompas, 18 September 2014

http://mediaindonesia.com/news/read/58597/pendanaan-riset-diperbaiki/2016-07-28

Riset 1,5% PDB Menuju Indonesia Hebat

http://www.antaranews.com/berita/455335/kepala-lipi-anggaran-riset-mutlak-harus-naik

http://www.antaranews.com/berita/578384/menristekdikti-prihatin-anggaran-risetminim?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news http://lipi.go.id/lipimedia/penelitian-sosial-jangka-panjang-dirintis/15748

Postur Anggaran 2016

http://lipi.go.id/lipimedia/single/menggugat-anggaran-riset/12341

Riset 1,5% PDB Menuju Indonesia Hebat

Dukungan Pemerintah RI dalam “Menyambut Masa Emas Riset Indonesia”

Share this post