CIPG-170x60

Pemutaran Film Pulau Buru Tanah Air Beta

IMG-20160511-WA0004 IMG-20160511-WA0003

 

Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) bekerjasama dengan Pamflet dan Remotivi  menyelenggarakan pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta pada Rabu, 4 Mei 2016 di Koalisi Seni Indonesia. Acara yang dibuka untuk umum ini diselenggarakan atas dorongan keinginan untuk membuka ruang diskusi publik tentang sejarah Pulau Buru dan sejarah kelam Nusantara yang tidak banyak diketahui orang pada umumnya.

Bertolak dari rumah tinggal Hersri di Jakarta, film ini mengangkat kisah dua eks tapol (tahanan politik), Hersri Setiawan dan Tedjabayu Sudjojono, menelusuri kembali tempat pembuangan mereka di Pulau Buru, salah satu tempat yang masih kental hubungannya dengan peristiwa G30S 1965. Hingga saat ini, G30S 1965 masih merupakan kelam sejarah Indonesia. Pelajaran sejarah yang diajarkan dalam sekolah formal masih menyajikan narasi a la Orde Baru. Sementara simposium 1965 yang digelar pemerintah pada 18-19 April 2016 lalu pun belum sampai pada komitmen untuk membuka kisah seputar 1965 dan kurun waktu sesudahnya.

Pulau Buru Tanah Air Beta persis menawarkan kilasan kisah yang bervariasi, mulai dari orang-orang yang dicap sebagai anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) dan ditahan tanpa diadili, perjumpaan para tahanan dengan penduduk lokal Pulau Buru, hingga sawah-ladang dan saluran air hasil kerja para tahanan yang masih bertahan dan digunakan penduduk hingga saat ini. Salah satu adegan yang menarik adalah saat putri Hersri mengungkapkan terima kasihnya karena di Pulau Buru ia merasa benar-benar diterima, bisa secara terbuka menyatakan bahwa ia adalah anak eks tapol. Pun di Pulau Buru, penduduk lokal maupun transmigran hidup berdampingan dengan damai bersama para eks tapol. Sayangnya, film ini tidak dapat masuk ke bioskop-bioskop.

Pada sesi tanya jawab, penonton yang rata-rata merupakan anak muda aktif di masyarakat sipil mendapat kesempatan untuk  berdiskusi langsung dengan Wishnu Yonar, produser film Pulau Buru Tanah Air Beta. Eduard Lazarus dari Remotivi bertindak sebagai moderator. Sesi tanya jawab berjalan lancar dan mendalam.  Menurut Wishnu, tujuan pembuatan film ini adalah untuk edukasi sekaligus sarana advokasi untuk membuka peristiwa G30S 1965 kepada publik luas. Mereka yang menonton film ini diharapkan tergerak untuk mencari tahu lebih banyak lagi mengenai peristiwa G30S 1965 dan rentetan peristiwa setelahnya, sejarah yang tidak berani diceritakan oleh Orde Baru dan pendukungnya.

Share this post