CIPG-Bulat Jelas

Peluncuran Riset: Imaji Dalam Sekat Media

Hari Sabtu, tanggal 22 Agustus 2015 lalu, Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) bersama University of Manchester dan didukung oleh Ford Foundation mengadakan peluncuran riset Unboxing Television in Contemporary Indonesia di Function Room, Gedung Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan. Acara yang diberi tema Imaji dalam Sekat Media ini berlangsung dari pukul 13.30 – 16.30, dan dihadiri oleh peserta dari kalangan industri media, mahasiswa, media, dan masyarakat umum.

Acara dimulai dengan pemutaran dokumenter bertajuk Catatan Penonton yang disutradarai oleh Rhino Ariefiansyah, dan diproduksi oleh CIPG berdasarkan hasil studi etnografi yang digunakan dalam laporan riset. Dokumenter berdurasi 18 menit ini menggambarkan pola konsumsi televisi di tiga keluarga yang ada di Tangerang, Bandung dan Pulau Ende (Nusa Tenggara Timur), serta menampilkan pendapat-pendapat subyek tentang televisi.

Selepas pemutaran dokumenter, acara kembali dilanjutkan dengan presentasi oleh Dwitri Amalia selaku peneliti utama dalam riset ini, mewakili para peneliti lain, Leonardus K. Nugraha, Fajri Siregar, Klara Esti, Dinita Andriani Putri dan Dr. Yanuar Nugroho selaku Principal Investigator. Dalam presentasinya, Dwitri membahas temuan riset dalam topik proses produksi dan konsumsi konten televisi di Indonesia. Ada tiga pertanyaan besar yang ingin dijawab: 1) Bagaimanakah proses produksi konten TV di Indonesia, 2) Bagaimanakah proses konsumsi konten TV di Indonesia dan faktor-faktor apa yang memengaruhinya dan 3) Apakah hubungan antara proses produksi dan konsumsi konten tersebut.

Untuk menjawab pertanyaan seputar konsumsi konten, CIPG melakukan studi etnografi di 12 rumah yang berada di 3 wilayah (Jabodetabek, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur) selama Mei hingga September 2014. Masing-masing peneliti tinggal di rumah-rumah tersebut selama 3 hingga 6 minggu untuk merasakan hidup sehari-hari bersama keluarga tersebut dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran televisi dalam kehidupan mereka.

Pertanyaan seputar produksi konten dijawab melalui wawancara ke 28 aktor utama industri TV, dan kunjungan ke 5 set produksi acara (Inbox, Pesbukers, Dahsyat, Segelas Cerita Keluarga Kusuma dan Indonesia Lawak Klub). Narasumber meliputi pegawai dan eksekutif TV (RCTI, NET., Trans TV, ANTV, Metro TV), lembaga rating (Nielsen), agensi iklan/media strategist (Lowe, Leo Burnett, Ogilvy), pengiklan (Unilever), dan juga sejumlah penulis naskah, akademisi, dan aktivis media.

Temuan utama riset ini adalah bahwa walaupun penonton mempunyai pola tonton yang berbeda-beda, kritik dan komentar mereka tidak mampu ditangkap oleh para produser konten. Struktur industri media kita tidak mempunyai mekanisme untuk menampung feedback dari penonton yang langsung, karena masih banyak mengacu kepada sistem rating dan kurang menggali dinamika di balik rating tersebut. Produser konten seolah tidak mampu untuk melawan mekanisme pasar, karena keputusan dalam memproduksi konten dikuasai oleh kekuatan rating tersebut. Ketidakmampuan pelaku industri dalam berinovasi dan mengaktifkan “free will” ini adalah kondisi yang disebut sebagai captive situation, yaitu suatu kondisi ketika hanya segelintir pihak yang berkuasa atas pasar (yaitu stasiun TV, lembaga rating dan agen iklan). Pihak-pihak inilah yang mendominasi keputusan produksi.

Seusai presentasi, acara berlanjut dengan diskusi yang dimoderatori oleh Yanuar Nugroho, dengan penanggap Chand Parwez, pemilik production house Starvision Plus, dan Ishadi SK selaku komisaris Trans TV. Bapak Chand memberikan tanggapan bahwa sebagai produser, faktor utama yang ia pertimbangkan dalam memproduksi konten adalah bagaimana programnya bisa memikat perhatian penonton. Menurutnya, penonton sekarang sangat selektif, dan walaupun diberikan tayangan yang berkualitas, rating sering kali rendah. Hal ini juga memengaruhi dinamika industri yaitu ketika produksi tayangan (baca: sinetron) menjadi terburu-buru. PH yang berafiliasi lebih banyak dengan stasiun TV, akan mendapatkan lebih banyak kesempatan dibanding PH yang independent. Ini menyebabkan program positif justru dihindari untuk dibuat.

Bapak Ishadi SK menyatakan bahwa TV sebenarnya adalah pemberi pelayanan jasa untuk memberikan pelayanan terbaik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan konsumen/penonton di sosial media.

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dengan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh enam penanya. Salah satu di antaranya adalah tentang kredibilitas lembaga rating, dan apakah sebetulnya yang digambarkan oleh rating itu? Dwitri menjawab bahwa berdasarkan wawancara dengan Nielsen, rating hanya menggambarkan traffic counting program-program yang ditonton, dan tidak memberikan value judgement apakah penonton suka atau tidak dengan program-program yang ada. Di sisi lain, rating menjadi rujukan sebagian besar produser konten TV. Di sinilah diperlukan lembaga rating alternatif sebagai suatu struktur agar dinamika penonton televisi bisa digali secara lebih jauh dan representatif.

Share this post