Event

Poster Eventbrite

 

Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) telah melakukan penelitian “Mengkaji Efektivitas Alat Pengaduan Publik” dengan mengambil empat studi kasus, yakni: LAPOR! (pemerintah pusat), Kabupaten Indramayu, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Indragiri Hulu (pemerintah daerah).

Presentasi hasil riset ini akan memaparkan:

  1. Sejauh mana keberadaan alat pengaduan dapat dikatakan efektif;
  2. Karakteristik pengguna alat pengaduan publik; dan
  3. Faktor pendorong dan penghambatan pemanfaatan alat pengaduan publik.

Semua temuan tersebut dianalisis dalam tiga aspek, yakni 1) tata kelola pemerintahan itu sendiri, 2) konteks TIK dan masyarakat, serta 3) partisipasi publik.

Akan turut hadir perwakilan:

  1. Bandung Institute for Governance Studies (BIGS)
  2. Kemenpan-RB
  3. Kantor Staf Presiden
  4. LAPOR!

Dalam kegiatan ini, CIPG akan membagikan Kertas Kebijakan yang berjudul “Mengadu demi Memperbaiki” yang berisi poin-poin rekomendasi untuk pemerintah terkait implementasi alat pengaduan publik.

Susunan Acara Presentasi

Selain peluncuran hasil riset juga akan ada pameran seni yang merupakan bentuk interpretasi dari hasil riset yang dilakukan oleh CIPG oleh Serrum Studio.

Tempat terbatas untuk 30 pendaftar pertama.

Untuk RSVP silakan klik tautan ini.

Sampai Jumpa!

 CP: +62-21 6386-1921 (Vitha) 

 

IMG_0787 IMG_0836
Pameran Karya Seni dan Diskusi Publik

Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) bekerjasama dengan Serrum Studio dan Remotivi menyelenggarakan pameran seni dan diskusi publik ”Telefiksi: Dongeng Semu Penyiaran” pada 22–24 Juli 2016 di Main Atrium Plaza Semanggi, Jakarta. Lima karya seni yang dipamerkan terdiri dari peta miniatur Indonesia yang menggambarkan dominasi identitas Jawa dalam konten media penyiaran, komik tentang kondisi LPK (Lembaga Penyiaran Komunitas) dan LPP TVRI-RRI (Lembaga Penyiaran Publik TVRI dan RRI),  beberapa video singkat tentang karut-marutnya penyiaran Indonesia saat ini, dan instalasi “Monoton TV” berisi tayangan-tayangan terpopuler yang ditawarkan TV dalam 24 jam per hari. Ada juga “Pojok Curhat”, di mana pengunjung bisa mampir dan merekam atau menuliskan kesan pesannya mengenai penyiaran Indonesia.

Acara ini dibuka pada Jumat, 22 Juli 2016 dengan penampilan KTF UI Radha Sarisha yang membawakan Tari Katrina khas Betawi. Pada Sabtu, 23 Juli 2016 diadakan diskusi publik dengan pembicara  ‎Ade Armando (akademisi, anggota KNRP/Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran); pengamat penyiaran Ignatius Haryanto; praktisi media Maman Suherman; dan Leila Chudori (penulis sekaligus kreator Dunia Tanpa Koma). Diskusi publik ini dibuka dengan penampilan stand up comedy oleh Benidictus Siregar. Sesi diskusi dan tanya jawab dipandu oleh Wishnu Sudarmadji. Dalam sesi tanya jawab, pengunjung berkesempatan bertanya kepada para pembicara mengenai isu penyiaran dan bagaimana publik bisa berpartisipasi memperbaiki penyiaran Indonesia. Salah satu pembicara dalam diskusi ini, Ade Armando menekankan bahwa penyiaran perlu diatur secara ketat karena menggunakan frekuensi publik, penataan penyiaran di Indonesia adalah tanggung jawab pemerintah, sementara masyarakat sipil bertugas untuk mengawal.

Rangkaian acara ini akhirnya ditutup pada Minggu, 24 Juli 2016 dengan tari Zapin Kasmaran oleh KTF UI Radha Sarisha dan penampilan perkusi dari Cie Cie Project. Program ini mendapatkan berbagai tanggapan yang positif dari pengunjung yang hadir dan mengemukakan aspirasinya tentang media penyiaran.

“Media seharusnya menjadi alat untuk mencerdaskan bangsa dan bukan alat pendulang rating atau bahkan alat politik” tulis salah satu pengunjung.

Program ini diselenggarakan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat umum mengenai ketimpangan yang terjadi dalam penyiaran Indonesia. Hasil riset sengaja dikemas dalam bentuk karya seni agar lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat. Program ini juga mengajak masyarakat umum untuk berpartisipasi aktif menyampaikan aspirasi kepada pengambil kebijakan agar mendorong terwujudnya penyiaran yang lebih baik.

 

Diskusi Publik mengenai hambatan pelaksanaan riset di Indonesia dalam konteks reformasi dan otonomi pendidikan tinggi, khususnya dalam ilmu sosial.

Hari/Tanggal: Rabu, 6 April 2016 (08.00 – 13.00)
Tempat: Auditorium LIPI

Presentasi Riset
Inaya Rakhmani – Reforming Research in Indonesia (research report di sini)
Sovachana Pou – Doing Research in Cambodia
Mitra KSI – University Barriers to Research

Penanggap
Fred Carden – KSI Indonesia
Lynn V. Meek – University of Melbourne
Yanuar Nugroho – Kantor Staf Presiden

Panel Penutup
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (dalam konfirmasi)
Prof. Pierre Jacquet – Global Development Network

Diskusi Publik ini tidak dipungut biaya. 100 Peserta pertama akan mendapatkan free snack & seminar kit.

Live Streaming (klik ikon YouTube di bawah ini)
YouTube-icon-full_color

Penyelenggara
Print

Hingga kini, media, utamanya televisi, masih gemar menampilkan realitas sosial secara timpang atau tidak utuh. Meski demikian, kritik yang menyoroti konten televisi pun terkadang hanya melihat dari satu dimensi. Atas dasar itu, riset ini mencoba untuk menggunakan pendekatan baru dalam menelaah televisi sebagai media dengan penetrasi tertinggi dalam masyarakat Indonesia.

Ada tiga permasalahan besar yang ingin dikupas, yaitu:
– proses produksi konten media,
– proses konsumsi konten media
– hubungan antara proses produksi dan konsumsi konten media tersebut.

Warna utama dari riset ini terletak pada metodologinya:
Dalam hal produksi, kami mengobservasi berbagai aktor yang berperan dalam produksi konten : Pengiklan, creative agency, advertising agency, media strategist, pemilik stasiun TV, rating agency, production house, hingga para floor director.

Dalam hal konsumsi, kami hidup bersama mereka yang selama ini hanya dihitung sebagai angka: 12 keluarga yang tersebar di tanah air yang menjadi contoh konsumen televisi. Riset etnografi kami lakukan sebagai berikut:

Jabodetabek : 4 keluarga
Bandung : 2 keluarga
Karawang : 2 keluarga
Kupang : 2 keluarga
Ende : 2 keluarga

Peluncuran riset ini menjadi kesempatan bagi kami untuk menceritakan kembali kisah-kisah yang tidak pernah terangkat ketika bicara televisi. Karena, adalah penting bagi kita untuk mengenal celah perubahan, mengingat bagi sebagian besar masyarakat kita, TV masih merupakan saluran utama informasi dan hiburan.

Akhir kata, CIPG mengundang kawan-kawan sekalian untuk turut meramaikan acara yang akan dihadiri oleh para pelaku industri dan pemangku kepentingannya lainnya sebagai penanggap.

Catat tanggal, waktu, dan tempatnya, Kawan! Jangan sampai lupa…

SABTU, 22 AGUSTUS 2015
Pkl. 13.30-16.00 WIB
FUNCTION ROOM – USMAR ISMAIL HALL
Gd. Pusat Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-22
Kuningan, Jakarta Selatan

Mari ramaikan dan sampai jumpa!

 

 

 

These report are part of report series of “Ëngaging Media Empowering Society”.

There will be two reports in this event which is:

  1. Media Policies in Indonesia: A trajectory and historical account is A desk study is to be conducted aiming at mapping the media policies in Indonesia, both existing and laws in drafts. It will also collate the data on the impacts of the policies to the citizens’ rights to media. The purpose is to have a systematic historical trajectory (longitudinal qualitative accounts) of media policies and its implications in Indonesia.
  2. The Profile of Media Industry in Indonesia is another desk study is to profile the Indonesian media industry through publicly available information and data (including news in the media, statistical analysis of the figure collected through the survey by the National Survey Agency (SUSENAS)), and grey literatures alike. The profile will provide a big picture of the media industry and business landscape in Indonesia, with clear hints to the access to media which is available to public.

This workshop is part of our current project entitled “Engaging Media, Empowering Society”, a project collaboration between CIPG and Hivos which funded by Ford Foundation.

The Critical Research Methodology (‘CREAME’) training is the first phase of the series of training and mentoring for Indonesian civil society organisations (CSOs) on critical research skill, media policy and human rights organised by CIPG and HIVOS for the period of fourteen months starting September 2011 to November 2012. These activities are part of the project funded by The Ford Foundation.

The training was designed solely for civil society organisations activists and aimed to empower the Indonesian civil society organisations to conduct methodologically-rigour critical research and to effectively engage media policy and human rights inIndonesia. In this training, CIPG and HIVOS invited four partner CSOs as participants. This selection was based on the initial discussion during the inception of the project in order to have an initial set of partners who have well-known reputation in the issue and had partnership with either HIVOS or Ford Foundation in the past.