Author: Anesthesia H. Novianda

Peneliti: Rinaldi Camil, Natasha H. Attamimi, dan Klara Esti

Dengan pengguna aktif mencapai 106 juta dan pertumbuhan pengguna aktif mencapai 34% (We Are Social, 2016), media sosial di Indonesia tumbuh menjadi pasar yang menarik secara ekonomis maupun politis. Peluang meraup untung maupun menggaet massa ini lantas dimanfaatkan oleh berbagai aktor, mulai dari industri periklanan hingga para pemain politik. Para pelaku ini menyuarakan kepentingannya dengan kicauan berbayar. Konon, pengicaunya adalah tokoh yang dinilai punya pengaruh–atau yang belakangan ini kerap disebut dengan istilah buzzer.

Gaduh Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 dan panasnya Pemilu Presiden 2014 yang diwarnai penyebaran informasi palsu (hoax) dan polarisasi warga adalah cermin besarnya pengaruh buzzer dalam membentuk percakapan di ranah daring. Fenomena buzzer di media sosial telah mengaburkan batas antara voice (suara warga) dengan noise (kondisi bising). Belakangan, menjamurnya akun-akun buzzer–dengan beragam jenis dan motifnya–kian tak terkendali. Gagasan bahwa media sosial berkontribusi besar sebagai sarana partisipasi warga dalam pembangunan mulai terancam. Sayangnya, upaya untuk memperkuat ruang publik terkendala oleh minimnya pemahaman mengenai apa itu buzzer dan dalam konteks apa buzzer mampu memengaruhi opini publik.

Penelitian ini berupaya untuk menjawab pertanyaan kunci tentang proses seseorang menjadi buzzer, karakter umum buzzer, serta bagaimana buzzer beroperasi, termasuk di dalamnya adalah lanskap industri buzzing. Pada akhirnya, fenomena buzzer penting dipahami secara utuh agar publik mampu menilai sejauh mana buzzer bisa ditempatkan dalam koridor demokrasi, sekaligus mengambil langkah-langkah yang perlu untuk memperkuat ruang-ruang publik.

Ringkasan laporan riset (Bahasa Indonesia) dapat diunduh pada tautan ini.

 

Author: Fajri Siregar, Leonardus K. Nugraha, Mona Luthfina Usmani, and Wirawan Agahari

English
This report examines the implementation of Open Government on the regional level in the Indonesian context. By looking at the cases of Mojokerto, Pontianak and Tangerang, this research suggests several factors that might decisive in the outcome of Open Government in general.

Bahasa Indonesia
Laporan ini menelaah implementasi Open Government pada tingkat pemerintah daerah di Indonesia. Dengan menggunakan Mojokerto, Pontianak dan Tangerang sebagai studi kasus, kajian ini menawarkan beberapa kemungkinan faktor sukses yang menentukan keberhasilan Open Government secara umum.

Download the report here English and Bahasa Indonesia

Author: Leonardus K. Nugraha, Klara Esti, and Mona Luthfina Usmani

English
This document offers a tool for policy makers, creative practitioners, or the leaders in grass root to elevate the understanding and awareness on creative economy unique ecology. Using Makassar and Surabaya as case studies, the module is designed to diagnose creative economy activities based on economic potential and contribution of each city

Bahasa Indonesia
Dokumen ini menawarkan sebuah sarana bagi para pembuat kebijakan, para praktisi kreatif, maupun para pemimpin di tingkat akar rumput untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan ekologi unik ekonomi kreatif. Menggunakan studi kasus Makassar dan Surabaya, modul ini dirancang untuk melakukan diagnosis terhadap aktivitas ekonomi kreatif sesuai potensi dan kontribusi perekonomian masing-masing kota.

Download the report here English and Bahasa Indonesia

 

Author: Ferzya Farhan and Daya C. Sudrajat

English

Lessening the inequality among people and ensures the ecosystem balance is a key priority in Inclusive Development (ID). Its cover economic, social, ecological and citizen rights aspect. Inclusive development is a universal term that’s not only for emerging and developing countries but also for developed one. For Indonesia, lessening the inequality is a primary concern when one of founding fathers lay the economic foundation. In fact, the Gini Ratio of Indonesia still show a large gap, pointing 0.394 in 2016.

Cooperative, as historically proven, offers such alternative: playing important economic and social roles in developed as well as developing countries. However, it often becomes an ‘invisible citizen’ compared to corporation. Cooperative concept of ‘community self-help’ can be used to tackle poverty, raising prosperity, implementing democratic participation as well as equality. Therefore, cooperative become an important issue towards inclusive development.

Cooperatives in Indonesia, of course, are diverse. This research will focus on the cooperative movement as a mean of ‘kooperasi’ to draw a distinction with ‘koperasi’ which commonly used by Indonesian. The cooperative movement (kooperasi) is a ‘self-organised’ cooperative that put ideology above profit. This research aims to take a closer look to the contributions of kooperasi to inclusive development, and how policy and innovation influence the existence of cooperatives.

 

Bahasa Indonesia

Mengurangi ketidaksetaraan diantara masyarakat dan memastikan keseimbangan ekosistem merupakan prioritas utama dalam pembangunan inklusif. Pembangunan inklusif terdiri dari empat aspek, yakni ekonomi, sosial, ekologi dan hak-hak sipil. Pembangunan inklusif adalah istilah universal yang tidak hanya berlaku bagi negara berkembang, tetapi juga untuk negara maju. Bagi Indonesia, mengurangi ketidaksetaraan telah menjadi perhatian utama sejak Indonesia merdeka. Walaupun kini, rasio Gini Indonesia masih menunjukkan kesenjangan yang besar – 0,394 pada tahun 2016.

Koperasi, bukan hal baru dalam sejarah Indonesia dan dunia. Namun, kerap menjadi ‘warga yang tak terlihat’ apabila dibandingkan dengan korporasi. Padahal konsep koperasi akan ‘swadaya masyarakat’ dapat digunakan untuk mengatasi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, dan menerapkan partisipasi demokratis serta kesetaraan.

Koperasi di Indonesia tentu saja beragam. Penelitian ini akan berfokus pada gerakan koperasi sebagai sarana ‘ko-operasi’ untuk menarik perbedaan dengan ‘koperasi’ yang biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia. Kooperasi adalah koperasi ‘mandiri’ yang menempatkan ideologi di atas laba. Penelitian ini bertujuan untuk melihat lebih dekat kontribusi kooperasi terhadap perkembangan inklusif, dan bagaimana kebijakan dan inovasi mempengaruhi keberadaan

Laporan lengkap riset (Bahasa Inggris) dapat diunduh pada tautan ini

Ringkasan laporan riset (Bahasa Indonesia) dapat diunduh pada tautan Cooperative’s contributions towards inclusive development