Atas Nama Pembangunan

Peneliti CIPG, Ferzya, berbagi pandangannya soal pembangunan di Aceh dalam artikel di tribunnews.

ACEH telah melewati berbagai rentetan kelam hingga 2004 lalu, ketika tsunami menghilangkan 180.000 nyawa. Bencana yang terjadi di 150 km pesisir barat Aceh melumpuhkan sendi-sendi sosial dan ekonomi. Angka kemiskinan pada saat itu mencapai 28,69%. Selama empat tahun (2005-2008) tata kelola pemerintahan Aceh diambil alih oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR Aceh-Nias) untuk menstabilkan kembali kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Ketika mandatnya berakhir, BRR meninggalkan kemiskinan di Aceh pada angka 23,53%. Pada saat itu, angka ini setara dengan 959.700 warga yang berada pada dan di bawah garis kemiskinan.

Temuan terbaru oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat sebanyak 841.000 rakyat Aceh dinyatakan masuk dalam kategori miskin. Data ini menunjukkan sekitar 16% populasi tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar makanan atau memilikipenghasilan rata-rata kurang dari 390.150 rupiah per bulan. Tingkat penggangguran masyarakat Aceh juga melebihi rata-rata Nasional, yakni pada angka 7,43% berbanding 6,14% pada level Nasional.

Baca artikel selengkapnya…..

 

 

 

Share this post